lazada

Saya Kapok Ikut MLM – Iman Ni’matullah

kapok mlm

Tulisan ini bukan untuk menakut-nakuti. Bukan pula untuk demarketisasi produk MLM. Bukan. Saya hanya ingin curhat. Berbagi pengalaman saya yang juga dialami oleh  teman dekat saya dan temannya teman dekat saya. Pengalaman yang miris.

Jaman saya kuliah dulu, tahun 2001. Saya sempat ikut MLM. diprospek oleh seorang Teman. Saya di ajak ke suatu gedung di Jakarta. Naik lift ke ruang seminar. Diterima oleh reseptionit yang cantik dan gagah. Si cantik pakai Blazer plus bunga di dadanya. Si Gagah juga pake kemeja berdasi,  jas , dan bunga yang sama. Wuih, terkesan orang sukses.

Saya pun masuk ruangan yang telah disetting sangat mewah dan meriah. Ada infokus dan layar putih di depan. Hadirin berjejer rapi. Di barisan depan para leader yang berpenampilan seperti pengusaha sukses dan terlihat meyakinkan.

Acara pun dimulai. Pertama, sessi pengakuan orang yang sudah menggunakan produk yang dijual oleh MLM. Macam-macam deh. Setelah itu barulah acara inti. Dibawakan oleh Presentator yang gagah, klimis, penuh percaya diri. Dia memulai presentasinya dengan ajakan untuk berfikir positif. dilanjutkan dengan ajakan untuk membangun impian. Setelah itu, baru deh, masuk point utama.

“Hari Gini? masih berbisnis konvensional? udah gak jaman orang bersusah payah cari duit. Sekarang saatnya duit yang nyari kita. Passive Income membuat kita bisa pelesiran ke luar negeri tapi duit masuk ke rekening tanpa terkendali. Bagaimana caranya? Nih saya kasih Anda Bussines Plan yang tidak ada duanya di dunia ini…, bla bla bla”

Sang Presentator sesekali mengutip teorinya Robert T Kiyosaki tentang The Cashflow Quadrant, teorinya Steven Covey tentang Seven Habbits, sedikit-sedikit kutipan ayat suci juga dia lantunkan meskipun agak kurang fasih.

Sepulang dari gedung itu. Hati saya meletup-letup. Gairah membuncah. Otaak saya berkeliaran mencari cara untuk mendapatkan sejumlah uang secepat mungkin untuk mendaftarkan diri menjadi anggota MLM. Harapan tinggi di benak saya. Beberapa tahun dari sekarang saya mendapatkan mobil mewah, rumah besar, bisa melancong ke luar negeri, dan yang hebat bisa mendapatkan uang tanpa kita kerja keras yang mereka sebut dengan Passive Income.

Beberapa bulan kemudian. Saya sudah bisa merekrut anggota baru yang biasa dinamakan Downline. Dibawah saya langsung ada 4  Downline , di bawahnya lagi ada 16 Downline, bawahnya lagi ada 64 Downline, dibawahnya lagi ada 256 Dowline. Sehingga total anggota di jaringan saya ada 340 orang.

Bahagiakah saya? Sukseskah saya? Tidak. Sama sekali. Memang sih, saya dapat uang yang dijanjikan dari perusahaan MLM itu. ada bonus ini itu. Tapi selanjutnya adalah ketersiksaan.

Apa yang dijanjikan sebagai kebebasan finansial, sistem yang bekerja untuk mencarikan kita uang adalah bohong besar.

Seluruh waktu saya tersita untuk membina downline. Siang malam tak kenal jadwal. Saya pernah ditelpon oleh salah seorang downline saya untuk presentasi di depan calon anggota (prospek) jam 11.30 malam. saya tidak bisa menolak karena MLM adalah kebalikan dari Militer. di MLM atasan (upline) yang harus siap melaksanakan perintah (permintaan) dari bawahan (downline).

Setiap kali saya presentasi, saya selalu meyakinkan diri sebagai orang yang sukses. Padahal tidak. Saya membeli jas, kemaja necis, dasi, dan sepatu bermerek untuk memantaskan diri sebagai orang sukses. Tak lupa saya menyebutkan kisah para leader saya yang sudah punya mobil mercy, pernah ke Hongkong, punya rumah mewah di kawasan bergengsi. Padahal saya sendiri sering frustasi, sulit sekali untuk mencapai level seperti mereka.

Di mata saya, semua orang adalah prospek. Ayah, Ibu, kakak, adik, saudara sepupu, paman, bibi, saudaranya paman, saudaranya sepupu, kakak ipar, saudaranya kakak ipar, teman SD, teman SMP, teman SMA, teman organisasi, dosen, offive boy di kampus. Saya tak lagi tulus bersaudara. Saya tak lagi punya niat lurus dalam berteman.  Akibatnya, semua teman saya menilai bahwa semua gerak-gerik, ycapan, dan sikap saya adalah upaya mengajak mereka untuk ikut MLM.

Sampai di suatu titik. Saya merasakan kejenuhan. Hidup terasa hampa. Persahabatan menjadi kering. Senyum saya tak lagi tulus. pertemuan di keluarga menjadi membosankan. Telepon dari downline saya untu membantunya memprospek calon anggota meulai menjadi gangguan. Saya bosan sebosan-bosannya. Tapi mereka terlanjur punya impian yang tinggi seperti halnya saya dulu. Lama kelamaan telepon daridownline menjadi teror bagi saya.

Sekarang saya sudah tobat dan kapok untuk ikut MLM. Saya sudah keluar dari hiruk pikuk orientasi produk, presentasi, home sharing, prospek calon downline. Dalam perjalanan taubat saya, iseng-iseng membaca resensi buku dari Robert L. Fitzpatrick dan Joyce K. Reynolds berjudul “False Profits : Seeking Financial and spritual Deliverance in Multi-Level Marketing and Pyramid Schemes”.

Nih cuplikannya :

“Anda dimotivasi untuk dapat melakukan MLM di waktu luang sesuai kontrol anda sendiri karena sebagai sebuah bisnis, MLM menawarkan fleksibilitas dan kebebasan mengatur waktu. Beberapa jam seminggu dapat menghasilkan tambahan pendapatan yang besar dan dapat berkembang menjadi sangat besar sehingga kita tidak perlu lagi bekerja yang lain.

Perlu dipikirkan kembali bahwa pengalaman puluhan tahun yang melibatkan jutaan manusia telah menunjukkan bahwa mencari uang lewat MLM menuntut pengorbanan waktu yang luar biasa serta ketrampilan dan ketabahan yang tinggi. Selain dari kerja keras dan bakat, MLM juga jelas-jelas menggerogoti lebih banyak wilayah kehidupan pribadi dan lebih banyak waktu.

Dalam MLM, semua orang dianggap prospek. Setiap waktu di luar tidur adalah potensi untuk memasarkan. Tidak ada batas untuk tempat, orang, maupun waktu. Akibatnya, tidak ada lagi tempat bebas atau waktu luang begitu seseorang bergabung dengan MLM. Dibalik selubung mendapatkan uang secara mandiri dan dilakukan di waktu luang, sistem MLM akhirnya mengendalikan dan mendominasi kehidupan seseorang dan menuntut penyesuaian yang ketat pada program-programnya.

Inilah yang menjadi penyebab utama mengapa begitu banyak orang tenggelam begitu dalam dan akhirnya menjadi tergantung sepenuhnya kepada MLM. Mereka menjadi terasing dan meninggalkan cara interaksi yang lain”

Sejak itu, setiap kali ada teman yang mengajak bergabung di MLM, selalu saya tolak. Pernah ada yang ngotot dan berbusa-busa mengajak saya.

Akhirnya saya jawab,  “Baiklah saya mau gabung. Tapi dengan syarat!”

“Apa syaratnya, Man?”

“Saya mau gabung, kalau kamu sudah punya kapal pesiar dan dapat passive income 150 juta sebulan”

Bagaimana dengan Anda?

sumber : http://ekonomi.kompasiana.com/wirausaha/2011/03/17/saya-kapok-ikut-mlm-347223.html

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

4 Responses

  1. mas zain26/12/2013 at 08:30Reply

    menawarkan investasi yang sesungguhnya yaitu kerjasama kepemilikan saham properti dengan sistem bagi hasil yang memuaskan.

    anda tinggal pilih proyek yang kami tawarkan, anda transfer untuk investasi, kemudian kami yang membereskan semuanya hingga properti terjual dan membagikan profit sesuai kontrak.

    properti adalah bisnis jangka panjang dan membuat uang anda berlipat2 dengan cara yang aman.

  2. petani29/01/2014 at 19:23Reply

    Jenuh MLM, Bosan ga sukses2, ato sakit hati ditipu BO scam???
    Bisnis bukan semata2 uang, yg ptg BAROKAH, karena di setiap keberkahan pasti melimpah income, sedangkan di income belum tentu ada keberkahan.
    Mari berbisnis dengan memberdayakan umat, JGN MEMPERDAYA, minimal ada sedikit ilmu yang bisa kita jariyahkan ke masyarakat
    >>> BUKAN SEKEDAR BISNIS
    Semoga manfaat, barakallah

  3. cemilan keripik basreng11/02/2014 at 09:11Reply

    kembali lagi ke orangnya ya…tapi sepengalaman ane, kaya dari bisnis MLM malah banyak musuh ya hehehe…akhirnya suksesnya ga lama ketika jaringannya runtuh

  4. Age22/03/2014 at 23:29Reply

    Sy jg hampir kapok…ternyata mlm yg sy ikuti selama ini menggunakan sistem keseimbangan kaki/keseimbangan omzet dan menggunakan side volume, sehingga tidal berpihak kpd member.Tranparansi dr perusahaan jg tdk ada.Brp omzet perusahaan,brp bonus yg terbayarkan, brp bonus yg blm terbayarkan dan sisa bonus yg blm dibayarkan, dikemankan,member dan para leader jg TDK tahu.Akhirnya sy ketemu dgn bisnis GENSEI.Di gensei memang mempunyai perbedaan,dimana bedanya ? silakan pelajari wwwdotgenseindodotcom

Leave a Reply

Anti-Spam Quiz: