lazada

Nilai sebuah Kejujuran

p_nilai_sebuah_kejujuran
Ada orang yang beranggapan bahwa zaman sekarang (abad ke 21) adalah zaman kacau-balau.
Orang tidak jujur menjadi penguasa, pejabat tinggi di pemerintahan atau perusahaan, pebisnis sukses, orang yang kaya raya.

Petugas yang seharusnya menegakkan keadilan justru menjadi pelanggar keadilan (polisi menjadi koruptor, petugas pajak mengantongi uang pajak, keputusan hakim dibeli, jaksa menjadi pencuri).  Banyak orang jujur justru tersingkirkan, dimusuhi, dan terlantar.
Kalau ingin berhasil dalam mengumpulkan harta (dengan mudah dan cepat), maka seseorang harus ikut bertindak tidak jujur.

Kalau mau tetap bekerja dengan jujur, maka dia tidak akan kebagian harta (dalam jumlah besar, dengan cara yang mudah, dan cepat).

Kebijaksanaan yang diajarkan sejak dari zaman dahulu mencoba menyadarkan agar kita hidup jujur, bekerja di jalan yang lurus, karena dengan demikian kita akan menerima anugerah Tuhan.  Mungkin usaha kita tidak akan meroket seperti orang yang tidak jujur, tetapi usaha kita akan lebih tahan menghadapi terpaan badai cobaan.
Di samping itu, apa yang sebenarnya dikejar atau ingin dinikmati oleh orang-orang yang tidak jujur?
Orang bijaksana berkata, “Kalau hari ini saya sudah cukup makan, ada tempat berteduh, bisa berbaring untuk tidur dengan nyenyak, dan badan sehat, apa lagi yang harus saya cari?
Orang yang berhasil menumpuk hartanya sampai ratusan miliaran atau bahkan triliunan rupiah, tidak akan dapat membawa sesen pun saat dia meninggal.  Mungkin dia akan mewariskan sengketa di antara anak-anaknya (mungkin juga di antara keluarga dari istri kedua, ketiga, dan seterusnya), memperebutkan harta warisan.  Atau dia mungkin mewariskan perkara kalau hartanya diperoleh lewat korupsi dan diselidiki oleh pihak yang berwajib.

Walaupun contoh di atas menjurus bahwa pelanggar adalah laki-laki, tidak berarti bahwa perempuan bersih dan suci.  Kadang-kadang justru perempuan yang membujuk suaminya untuk berlaku tidak jujur.

Memang tampaknya orang kaya hidupnya senang.  Ke mana-mana naik mobil mewah, mau membeli barang mahal tidak perlu memikir 2 kali, pakaiannya bagus, rumahnya mewah, berlibur ke luar negeri.  Akan tetapi, apakah dia berbahagia?  Bila ada anaknya yang kecanduan narkoba, atau mengendarai mobil dan menabrak orang, atau dirinya setiap hari harus minum bermacam-macam obat agar aneka penyakitnya tidak kambuh, apakah hal itu enak?
Banyak orang mengakui (walaupun mungkin hanya di bibir saja) bahwa alam semesta dan segala isinya adalah ciptaan Allah dan merupakan milik-Nya, termasuk nyawa kita.  Kapan pun nyawa kita dipanggil, saat itu juga kita akan mati.  Segala yang menjadi “milik” kita pada hakikatnya adalah milik-Nya yang dipercayakan kepada kita untuk kita kelola.

Apakah kita masing-masing, saya dan Anda, sudah mengelola milik-Nya dengan baik?  Kalau kita sampai merebut milik-Nya yang sebenarnya akan dipercayakan kepada orang lain, bukankah tanggung jawab kita juga bertambah besar?  Akhirnya kita juga yang harus bertanggung jawab di akhirat nanti.  Apakah kita sudah memberikan milik-Nya yang menjadi hak orang lain kepada yang berhak?  Atau apakah kita serakah dan menggunakan semua milik-Nya yang dipercayakan kepada kita untuk kepentingan kita sendiri?  Cepat atau lambat, kita juga yang harus bertanggung jawab.
Oleh karena itu, sudah sewajarnya kalau kita mau hidup jujur.  Akan tetapi, sungguh mengherankan, walaupun paham mengenai hal-hal di atas, banyak juga orang yang tetap secara sadar melanggarnya, meninggalkan kejujuran, untuk meraih kenikmatan sesaat.

Jelas di sini bahwa setan bekerja dengan cara-cara yang halus, menggoda, dengan bujuk rayu yang memabukkan.  Setan tidak menakut-nakuti manusia dengan wajah yang mengerikan.
banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

Anti-Spam Quiz: